Krisis Lingkungan Hidup, Akibat Konflik Antara Manusia Dan Alam
Oleh : Gusmailina
Pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan manusia akhir-akhir ini cenderung tanpa peduli dan etika, sehingga secara langsung menyebabkan krisis terhadap lingkungan hidup. Manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa memperhatikan kaidah dan norma ekologis tetapi lebih kepada humanis, sehingga krisis lingkungan hidup yang terjadi sekarang ini berakar pada krisis moral. Manusia kurang peduli atau bahkan tidak peduli pada tatanan kehidupan ciptaan Sang Pencipta, sehingga menggantinya dengan tatanan dan norma ciptaan sesuai dengan kepentingannya sendiri.
Saat ini manusia memandang alam tanpa menggunakan hati nurani. Manusia secara semena-mena mengeksploitasi alam dan mencemari lingkungan tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia. Isu-isu kerusakan lingkungan menghadirkan persoalan tatanan dan etika yang rumit. Karena meskipun pada dasarnya alam sendiri sudah diakui sungguh memiliki nilai dan berharga, tetapi kenyataannya terus terjadi pencemaran dan perusakan. Keadaan ini memunculkan banyak pertanyaan. Sehingga seolah-olah manusia sudah kehilangan rasa cinta pada alam serta terjadinya perobahan cara pandang manusia terhadap alam. Fakta krisis lingkungan yang terjadi sekarang ini juga menimbulkan pertanyaan bagaimana keterkaitan manusia yang hidup sekarang ini dengan generasi yang akan datang serta mengajak berfikir tentang tanggung jawab terhadap situasi dan lingkungan di masa datang. Tanggung jawab bagaimana membuat bumi ini nyaman dan layak untuk ditinggali sekarang dan masa yang akan datang.
Krisis lingkungan yang paling mengemuka akibat perbuatan manusia secara langsung diantaranya adalah, penebangan hutan secara illegal yang berdampak pada kerusakan tatanan dan ekologi lingkungan. Manusia dengan egonya tidak memikirkan bahwa kondisi ini akan sangat merugikan baik bagi ekosisitem hutan itu sendiri, maupun lingkungannya. Seperti masalah pemanasan global, masalah degradasi tanah, serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati.
Pemanasan global akan sangat meningkat bila kelestarian dan keutuhan hutan tidak dipelihara. Ada beberapa akibat yang akan muncul akibat pemanasan global ini, antara lain terjadinya perubahan iklim. Hal ini akan mempercepat penguapan air sehingga berpengaruh pada curah hujan dan distribusinya. Akibat selanjutnya adalah terjadinya banjir dan erosi di daerah-daerah tertentu. Seperti kasus yang terjadi di Pontianak (Kalimantan Barat) dan Nias (Sumatra Utara) yang menelan korban materi dan nyawa yang sangat besar. Musim kering yang berkepanjangan juga akan melanda daerah-daerah yang areal hutannya digunduli, bahkan dibakar. Sebagai contoh adalah kebakaran hutan Kalimantan Barat. Resiko yang timbul kemudian adalah banyaknya lahan yang dibiarkan kosong.
Penebangan hutan secara tak terkendali pasti juga menyebabkan degradasi tanah dan berkurangnya kesuburan tanah. Data dari Biro Pusat Statistik menyebutkan bahwa lahan produktif yang telah diolah di Indonesia sebanyak 17.665.000 hektar. Sebesar 70 % dari lahan itu adalah lahan kering. Sisanya adalah lahan basah. Akibat penebangan liar yang terjadi banyak lahan kering yang tidak digarap. Akibatnya erosi menjadi mudah terjadi dan tanah berkurang kesuburannya.
Masalah punahnya keranekaragaman hayati, cukup mendapat perhatian penting saat ini. Berdasarkan penelitian para ahli, jumlah spesies binatang atau spesies burung semakin berkurang, khususnya di Kalimantan Barat. Akibat penebangan hutan yang dilakukan terus menerus, banyak hewan yang menyingkir dan mencari habitat yang baru. Misalnya, harimau Kalimantan semakin terjepit karena tempat tinggalnya semakin sempit dan terus di babat. Bukan tidak mungkin bahwa tahun-tahun mendatang spesies harimau akan punah. Para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 2015 dengan penggundulan hutan tropis di Kalimantan akan menyebabkan punahnya 4-8% spesies dan 17,35 % pada tahun 2040.
Minggu, 13 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar