Eksplorasi dan Identifikasi Komponen Bio-Aktif Beberapa Jenis Kayu Tropis
RINGKASAN
Ditinjau dari aspek ekologis, penggunaan bahan pengawet sintetis mempunyai dampak yang kurang menguntungkan terutama disebabkan karena sifat toksisitas dari bahan kimia tersebut. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, maka usaha-usaha pemanfaatan natural products atau zat ekstraktif yang terdapat di dalam kayu sebagai bahan pengawet alami merupakan hal yang sangat penting. Secara alamiah zat ekstraktif tersebut dapat dieksplorasi dari kayu-kayu yang mempunyai tingkat keawetan alami tinggi yang juga banyak terdapat di Indonesia. Akan sangat menguntungkan apabila zat ekstraktif tersebut dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan sebagi bahan pengawet alami, karena sifatnya yang biodegradable dan merupakan sumberdaya alam yang bersifat renewable.
Dalam rangka pemanfaatan zat ekstraktif kayu tropis Indonesia sebagai bahan pengawet kayu alami, maka perlu dilakukan usaha-usaha penelitaian jangka panjang yang meliputi eksplorasi & identifikasi jens-jenis kayu tropis yang mengandung komponen-komponen bio-aktif, isolasi & identifikasi komponenkomponen bio-aktif, serta pengujian komponen bio-aktif tersebut pada kondisi lapangan (field test) terhadap aktifitas mikroorganisme perusak kayu.
Penelitian pada tahun pertama merupakan penelitian pendahuluan yang bersifat eksploratif terhadap beberapa jenis kayu tropis yang mungkin mengandung zat ekstraktif yang bersifat bio-aktif, yaitu meliputi
1. Ekstraksi dan fraksinansi terhadap ekstrak aseton yang diperoleh dari masing-masing jenis kayu yang digunakan.
2. Mengetahui aktifitas biologis masing-masing fraksi dari masing-masing jenis kayu terhadap aktifitas rayap Coptotermes curvignathus dan jamur Schizophyllum commune. Kayu yang digunakan dalam penelitian adalah 9 (sembilan) jenis kayu tropis daun lebar yaitu kayu sonokeling (Dalbergia latifolia Roxb.), kayu johar (Cassia siamea), kayu damar laut (Hopea spp.), kayu eboni (Diospyros poenanthera), kolaka (Parinari corymbosa), kayu torem (Manilkara kanosiensis ), kayu lara (Metrosideros petiolata.), kayu nyatoh (Palaqium gutta), dan kayu sonokembang (Pterocarpus indicus).
Bagian kayu teras dari masing-masing jenis kayu dibuat serbuk dengan ukuran antara 40-60 mesh, kemudian dikering-udarakan sampai kadar air lebih kurang 15 %. Selanjutnya lebih kurang 2000 gram serbuk kayu dari masing-masing jenis kayu diekstraksi dengan aseton. Ekstrak aseton yang diperoeh tersebut lalu dipekatkan dengan rotary evaporator dan selanjutnya difraksinasi berturut-turut dengan n-heksana, etil eter, dan etil asetat. Masingmasing fraksi tersebut selanjutnya diuji daya toksisitasnya terhadap rayap Coptotermes curvignathus dan jamur Schizophyllum commune. Dari hasil penelitian tahun pertama diperoleh informasi bahwa kandungan zat ekstraktif dari jenis-jenis kayu yang diteliti sangat bervariasi. Kayu sonokeling (8,06%), kayu johar (5,53%), kayu damar laut (4,53%), kayu sonokembang (6,40%), dan kayu torem (6,05%) termasuk jenis-jenis kayu dengan kandungan zat ekstraktif tinggi, sedangkan jenis-jenis kayu nyatoh (0,74%), kayu eboni (1. 1 5%), kayu kolaka (0,67%), dan kayu lara (2,22%) termasuk jenis-jenis kayu dengan kandungan zat ekstraktif rendah. Hasil pengujian sifat anti-rayap menunjukkan bahwa berdasarkan indikator mortalitas rayap, fraksi n-heksana & fraksi ethyl ether dari kayu sonokeling, ekstrak dari kayu damar laut, fraksi n-heksana dari kayu sonokembang, fraksi ethyl ether dari kayu nyatoh, dan fraksi n-heksana dari kayu kolaka menunjukkan aktifitas yang sangat tinggi dalam menghambat perkembangan Coptotermes curvignathus. Namun berdasarkan indikator laju konsumsi ternyata hanya fraksi n-heksana dari kayu sonokeling dan ekstrak kayu damar laut saja yang menunjukkan aktifitas tinggi terhadap raya yang diumpankan. Hasil pengujian sifat anti-jamur menunjukkan bahwa diantara fraksi-fraksi yang diu i hanya fraksi ethyl ether dari kayu sonokembang saja yang menunjukkan aktifitas sangat daam menghambat pertumbuhan jamur Schizophyllum commune.
Tujuan penelitian pada tahun kedua adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi komponen-komponen bioaktif yang terdapat pada fraksi-fraksi yang mengandung zat ekstraktif tinggi dan menunjukkan aktifitas tinggi terhadap rayap Coptotermes curvignathus dan jamur Schizophyllum commune. Jenis-jenis kayu yang dianalisis lebih lanjut adalah jenis kayu sonokeling, kayu damar laut, dan kayu sonokembang. Analisis yang dilakukan adalah mengisolasi dan mengidentifikasi komponen-komponen bio-aktif yang mungkin terdapat dalam kayu tersebut. Hasil isolasi dan identifikasi komponen bioaktif menunjukkan bahwa dari fraksi etil eter kayu sonokeling diperoleh 2 komponen utama. Hasil identifikasi dengan proton dan karbon NMR menunjukkan bahwa kedua komponen tersebut adalah latifolin dan new neoflavonoid. Hasil pengujian dengan metoda TLCbioautography menunjukkan bahwa kedua komponen tersebut di atas mempunyai sifat anti-jamur yang sangat tinggi terhadap jamur Cladosporium cladosporioides. Identifikasi dengan dengan NIST Library, menunjukkan bahwa dari fraksi nheksana kayu damar laut diperoleh tujuh komponen yaitu 1-heptadecene, 3octadecene, 2-naptalenol, dibutil ptalat, asam heksadekanoat, terasasterol, 9eikosena. Dari fraksi etil eter diperoleh enam komponen yaitu n-heptadekena, 9eikosena, asam kaprilat, 4-metoksi benzaldehida, asam-9-oktadekanoat, dan asam,.tetradekanoat. Sedangkan dari fraksi etil asetat diperoleh 4 komponen yaitu asam oktadekanoat, asam-9-oktadekanoat, 1,2 asam benzaldikarboksilat diiso etil ester, dan asam eikosadienoat metil ester. Dengan menggunakan kromatografi gas - spectrometer massa fraksi n-heksan kayu sonokembang menunjukkan tujuh puncak yang terpisah nyata. Akan tetapi hanya 3 komponen yang bisa diidentifikasi dengan NIST Library yaitu guaiacol, 2-napthalenemethanol, dan asam 9,12-octadekadienoat. Sementara itu komponen dari fraksi etil eter tidak bisa diidentifikasi dengan NIST Library karena tidak ada nilai yang cocok dengan data yang tersedia dalam komputer.
Minggu, 13 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar