Minggu, 13 Desember 2009

KISAH MALIN KUNDANG




Kisah Malin Kundang

Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga yang memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya.

Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata. Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tibatiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu. Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak.

Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya. Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

HIKMAH: Sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan semua jasa orangtua terutama kepada seorang Ibu yang telah mengandung dan membesarkan anaknya, apalagi jika sampai menjadi seorang anak yang durhaka. Durhaka kepada orangtua merupakan satu dosa besar yang nantinya akan ditanggung sendiri oleh anak.

Pemanasan global dan perubahan iklim

Pemanasan global dan perubahan iklim


Sejak akhir tahun 2006, Menteri Negara Lingkungan Hidup mendesak agar masalaah perubahan iklim segera disosialisasikan kepada masyarakat, mengingat semakin hari semakin terasa dampak negatifnya. Pemanasan global dan perubahan iklim sangat penting disosialisasikan, karena efeknya sangat besar bagi masyarakat dan tidak bisa dihindari lagi. Yang dapat dilakukan hanya mengurangi dampak negatifnya (mitigasi) atau menghambat laju prosesnya. Oleh sebab itu masyarakat dituntut untuk dapat menyesuaikan diri atau adaptasi dengan keadaan seperti ini, sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri terhadap perubahan iklim, dan secara psikologis masyarakat dapat menyikapi perubahan suhu dan kenaikan air muka laut.

Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi rata-rata parameter iklim. Perubahan ini tidak terjadi dalam waktu singkat (mendadak), tetapi secara perlahan dalam kurun waktu yang cukup panjang antara 50-100 tahun. Perubahan iklim terjadi akibat proses pemanasan global, yaitu meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat akumulasi panas yang tertahan di atmosfer. Akumulasi panas itu sendiri terjadi akibat adanya efek rumah kaca di atmosfer bumi. Efek rumah kaca (ERK) merupakan suatu fenomena dimana gelombang pendek radiasi matahari menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun tidak seluruh gelombang panjang yang dipantulkan itu dilepaskan ke angkasa luar. Sebagian gelombang panjang dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi.

Contoh Kasus Kerusakan Lingkungan: Penebangan Hutan di Kalimantan
Penebangan hutan secara ilegal (illegal logging) sebenarnya persoalan klasik bagi masyarakat Indonesia. Setiap hari, kegiatan tersebut marak dilakukan di sejumlah kawasan hutan dengan diketahui petugas instansi berwenang, aparat dan masyarakat setempat. Meskipun berkali-kali diberitakan bahwa penertiban terus diupayakan, namun penebangan dan perusakan hutan semakin merajalela.

Di kabupaten Ketapang misalnya, sasaran penebangan liar adalah Taman Nasional Gunung Palung ( TNGP ). Sudah sekitar 5 tahun penjarahan itu berlangsung. Sekitar 80 % dari 90.000 ha luas TNGP sudah dirambah para penebang dan mengalami rusak berat. Para penebang yang dibayar untuk memotong pohon itu diperkirakan jumlahnya sebanyak 2000 orang dengan menggunakan motor pemotong chainsaw .
Selain itu di hutan Kapuas Hulu, penebangan hutan liar juga tak kalah mengerikan. Sasaran penebangan adalah pohon-pohon dengan jenis Kayu Ramin, Meranti, Klansau, Mabang, Bedaru, dan jenis Kayu Tengkawang yang termasuk jenis kayu dilindungi. Kayu-kayu gelondongan yang telah ditebang langsung diolah menjadi balok dalam berbagai ukuran antara lain: 24 cm x 24 cm, 12 cm x 12 cm dengan panjang rata-rata 6 meter. Setiap hari jumlah truk yang mengangkut kayu ini ke wilayah Malaysia sekitar 50 –60 truk. Menurut Sekjen “Silva Indonesia”, pengangkutan ini berlangsung siang dan malam dihadapan mata aparat instansi berwenang tanpa ada pemungutan dana reboisasi dan pajak lainnya “.

Kerugian bidang Ekonomi
Berdasarkan pada perkiraan Prof. Dr. Herujono Hadisuprapto, MSc, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, setiap hari kayu ilegal berbentuk balok yang diselundupkan dari Kal-Bar ke Serawak mencapai 10.000 m kubik. Kayu-kayu ini terbebas dari iuran resmi seperti dana reboisasi, provisi sumber daya hutan, dan pajak ekspor. Diprediksi kerugian negara mencapai Rp. 5,35 milyar per hari, atau sekitar Rp 160,5 milyar perbulan. Maka sebenarnya sangat ironis jika kerugian ini dihubungkan dengan usaha mati-matian dari pemerintah Indonesia untuk mencari pinjaman dana dari IMF. Ketika pemerintah mengemis pada IMF dana senilai 400 juta $ AS, sebenarnya pemerintah kehilangan pendapatan atas pajak senilai 4 Milyar $ AS setiap tahunnya akibat penebangan hutan liar sejak 1998.

PEMANASAN GLOBAL BUKAN LAGI ISU, TETAPI FAKTA...

Krisis Lingkungan Hidup, Akibat Konflik Antara Manusia Dan Alam

Oleh : Gusmailina


Pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan manusia akhir-akhir ini cenderung tanpa peduli dan etika, sehingga secara langsung menyebabkan krisis terhadap lingkungan hidup. Manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa memperhatikan kaidah dan norma ekologis tetapi lebih kepada humanis, sehingga krisis lingkungan hidup yang terjadi sekarang ini berakar pada krisis moral. Manusia kurang peduli atau bahkan tidak peduli pada tatanan kehidupan ciptaan Sang Pencipta, sehingga menggantinya dengan tatanan dan norma ciptaan sesuai dengan kepentingannya sendiri.

Saat ini manusia memandang alam tanpa menggunakan hati nurani. Manusia secara semena-mena mengeksploitasi alam dan mencemari lingkungan tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia. Isu-isu kerusakan lingkungan menghadirkan persoalan tatanan dan etika yang rumit. Karena meskipun pada dasarnya alam sendiri sudah diakui sungguh memiliki nilai dan berharga, tetapi kenyataannya terus terjadi pencemaran dan perusakan. Keadaan ini memunculkan banyak pertanyaan. Sehingga seolah-olah manusia sudah kehilangan rasa cinta pada alam serta terjadinya perobahan cara pandang manusia terhadap alam. Fakta krisis lingkungan yang terjadi sekarang ini juga menimbulkan pertanyaan bagaimana keterkaitan manusia yang hidup sekarang ini dengan generasi yang akan datang serta mengajak berfikir tentang tanggung jawab terhadap situasi dan lingkungan di masa datang. Tanggung jawab bagaimana membuat bumi ini nyaman dan layak untuk ditinggali sekarang dan masa yang akan datang.

Krisis lingkungan yang paling mengemuka akibat perbuatan manusia secara langsung diantaranya adalah, penebangan hutan secara illegal yang berdampak pada kerusakan tatanan dan ekologi lingkungan. Manusia dengan egonya tidak memikirkan bahwa kondisi ini akan sangat merugikan baik bagi ekosisitem hutan itu sendiri, maupun lingkungannya. Seperti masalah pemanasan global, masalah degradasi tanah, serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati.

Pemanasan global akan sangat meningkat bila kelestarian dan keutuhan hutan tidak dipelihara. Ada beberapa akibat yang akan muncul akibat pemanasan global ini, antara lain terjadinya perubahan iklim. Hal ini akan mempercepat penguapan air sehingga berpengaruh pada curah hujan dan distribusinya. Akibat selanjutnya adalah terjadinya banjir dan erosi di daerah-daerah tertentu. Seperti kasus yang terjadi di Pontianak (Kalimantan Barat) dan Nias (Sumatra Utara) yang menelan korban materi dan nyawa yang sangat besar. Musim kering yang berkepanjangan juga akan melanda daerah-daerah yang areal hutannya digunduli, bahkan dibakar. Sebagai contoh adalah kebakaran hutan Kalimantan Barat. Resiko yang timbul kemudian adalah banyaknya lahan yang dibiarkan kosong.

Penebangan hutan secara tak terkendali pasti juga menyebabkan degradasi tanah dan berkurangnya kesuburan tanah. Data dari Biro Pusat Statistik menyebutkan bahwa lahan produktif yang telah diolah di Indonesia sebanyak 17.665.000 hektar. Sebesar 70 % dari lahan itu adalah lahan kering. Sisanya adalah lahan basah. Akibat penebangan liar yang terjadi banyak lahan kering yang tidak digarap. Akibatnya erosi menjadi mudah terjadi dan tanah berkurang kesuburannya.

Masalah punahnya keranekaragaman hayati, cukup mendapat perhatian penting saat ini. Berdasarkan penelitian para ahli, jumlah spesies binatang atau spesies burung semakin berkurang, khususnya di Kalimantan Barat. Akibat penebangan hutan yang dilakukan terus menerus, banyak hewan yang menyingkir dan mencari habitat yang baru. Misalnya, harimau Kalimantan semakin terjepit karena tempat tinggalnya semakin sempit dan terus di babat. Bukan tidak mungkin bahwa tahun-tahun mendatang spesies harimau akan punah. Para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 2015 dengan penggundulan hutan tropis di Kalimantan akan menyebabkan punahnya 4-8% spesies dan 17,35 % pada tahun 2040.

KOMPONEN BIO AKTIF

Eksplorasi dan Identifikasi Komponen Bio-Aktif Beberapa Jenis Kayu Tropis

RINGKASAN

Ditinjau dari aspek ekologis, penggunaan bahan pengawet sintetis mempunyai dampak yang kurang menguntungkan terutama disebabkan karena sifat toksisitas dari bahan kimia tersebut. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, maka usaha-usaha pemanfaatan natural products atau zat ekstraktif yang terdapat di dalam kayu sebagai bahan pengawet alami merupakan hal yang sangat penting. Secara alamiah zat ekstraktif tersebut dapat dieksplorasi dari kayu-kayu yang mempunyai tingkat keawetan alami tinggi yang juga banyak terdapat di Indonesia. Akan sangat menguntungkan apabila zat ekstraktif tersebut dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan sebagi bahan pengawet alami, karena sifatnya yang biodegradable dan merupakan sumberdaya alam yang bersifat renewable.

Dalam rangka pemanfaatan zat ekstraktif kayu tropis Indonesia sebagai bahan pengawet kayu alami, maka perlu dilakukan usaha-usaha penelitaian jangka panjang yang meliputi eksplorasi & identifikasi jens-jenis kayu tropis yang mengandung komponen-komponen bio-aktif, isolasi & identifikasi komponenkomponen bio-aktif, serta pengujian komponen bio-aktif tersebut pada kondisi lapangan (field test) terhadap aktifitas mikroorganisme perusak kayu.

Penelitian pada tahun pertama merupakan penelitian pendahuluan yang bersifat eksploratif terhadap beberapa jenis kayu tropis yang mungkin mengandung zat ekstraktif yang bersifat bio-aktif, yaitu meliputi

1. Ekstraksi dan fraksinansi terhadap ekstrak aseton yang diperoleh dari masing-masing jenis kayu yang digunakan.
2. Mengetahui aktifitas biologis masing-masing fraksi dari masing-masing jenis kayu terhadap aktifitas rayap Coptotermes curvignathus dan jamur Schizophyllum commune. Kayu yang digunakan dalam penelitian adalah 9 (sembilan) jenis kayu tropis daun lebar yaitu kayu sonokeling (Dalbergia latifolia Roxb.), kayu johar (Cassia siamea), kayu damar laut (Hopea spp.), kayu eboni (Diospyros poenanthera), kolaka (Parinari corymbosa), kayu torem (Manilkara kanosiensis ), kayu lara (Metrosideros petiolata.), kayu nyatoh (Palaqium gutta), dan kayu sonokembang (Pterocarpus indicus).

Bagian kayu teras dari masing-masing jenis kayu dibuat serbuk dengan ukuran antara 40-60 mesh, kemudian dikering-udarakan sampai kadar air lebih kurang 15 %. Selanjutnya lebih kurang 2000 gram serbuk kayu dari masing-masing jenis kayu diekstraksi dengan aseton. Ekstrak aseton yang diperoeh tersebut lalu dipekatkan dengan rotary evaporator dan selanjutnya difraksinasi berturut-turut dengan n-heksana, etil eter, dan etil asetat. Masingmasing fraksi tersebut selanjutnya diuji daya toksisitasnya terhadap rayap Coptotermes curvignathus dan jamur Schizophyllum commune. Dari hasil penelitian tahun pertama diperoleh informasi bahwa kandungan zat ekstraktif dari jenis-jenis kayu yang diteliti sangat bervariasi. Kayu sonokeling (8,06%), kayu johar (5,53%), kayu damar laut (4,53%), kayu sonokembang (6,40%), dan kayu torem (6,05%) termasuk jenis-jenis kayu dengan kandungan zat ekstraktif tinggi, sedangkan jenis-jenis kayu nyatoh (0,74%), kayu eboni (1. 1 5%), kayu kolaka (0,67%), dan kayu lara (2,22%) termasuk jenis-jenis kayu dengan kandungan zat ekstraktif rendah. Hasil pengujian sifat anti-rayap menunjukkan bahwa berdasarkan indikator mortalitas rayap, fraksi n-heksana & fraksi ethyl ether dari kayu sonokeling, ekstrak dari kayu damar laut, fraksi n-heksana dari kayu sonokembang, fraksi ethyl ether dari kayu nyatoh, dan fraksi n-heksana dari kayu kolaka menunjukkan aktifitas yang sangat tinggi dalam menghambat perkembangan Coptotermes curvignathus. Namun berdasarkan indikator laju konsumsi ternyata hanya fraksi n-heksana dari kayu sonokeling dan ekstrak kayu damar laut saja yang menunjukkan aktifitas tinggi terhadap raya yang diumpankan. Hasil pengujian sifat anti-jamur menunjukkan bahwa diantara fraksi-fraksi yang diu i hanya fraksi ethyl ether dari kayu sonokembang saja yang menunjukkan aktifitas sangat daam menghambat pertumbuhan jamur Schizophyllum commune.

Tujuan penelitian pada tahun kedua adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi komponen-komponen bioaktif yang terdapat pada fraksi-fraksi yang mengandung zat ekstraktif tinggi dan menunjukkan aktifitas tinggi terhadap rayap Coptotermes curvignathus dan jamur Schizophyllum commune. Jenis-jenis kayu yang dianalisis lebih lanjut adalah jenis kayu sonokeling, kayu damar laut, dan kayu sonokembang. Analisis yang dilakukan adalah mengisolasi dan mengidentifikasi komponen-komponen bio-aktif yang mungkin terdapat dalam kayu tersebut. Hasil isolasi dan identifikasi komponen bioaktif menunjukkan bahwa dari fraksi etil eter kayu sonokeling diperoleh 2 komponen utama. Hasil identifikasi dengan proton dan karbon NMR menunjukkan bahwa kedua komponen tersebut adalah latifolin dan new neoflavonoid. Hasil pengujian dengan metoda TLCbioautography menunjukkan bahwa kedua komponen tersebut di atas mempunyai sifat anti-jamur yang sangat tinggi terhadap jamur Cladosporium cladosporioides. Identifikasi dengan dengan NIST Library, menunjukkan bahwa dari fraksi nheksana kayu damar laut diperoleh tujuh komponen yaitu 1-heptadecene, 3octadecene, 2-naptalenol, dibutil ptalat, asam heksadekanoat, terasasterol, 9eikosena. Dari fraksi etil eter diperoleh enam komponen yaitu n-heptadekena, 9eikosena, asam kaprilat, 4-metoksi benzaldehida, asam-9-oktadekanoat, dan asam,.tetradekanoat. Sedangkan dari fraksi etil asetat diperoleh 4 komponen yaitu asam oktadekanoat, asam-9-oktadekanoat, 1,2 asam benzaldikarboksilat diiso etil ester, dan asam eikosadienoat metil ester. Dengan menggunakan kromatografi gas - spectrometer massa fraksi n-heksan kayu sonokembang menunjukkan tujuh puncak yang terpisah nyata. Akan tetapi hanya 3 komponen yang bisa diidentifikasi dengan NIST Library yaitu guaiacol, 2-napthalenemethanol, dan asam 9,12-octadekadienoat. Sementara itu komponen dari fraksi etil eter tidak bisa diidentifikasi dengan NIST Library karena tidak ada nilai yang cocok dengan data yang tersedia dalam komputer.